Belajar adalah proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku individu yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Ya, kira-kira seperti itulah arti belajar secara umumnya. Sebenarnya pengertian belajar sangat bervariasi, tergantung pada sudut pandangnya. Atas dasar hal tersebut, maka muncul berbagai jenis-jenis belajar dengan konsepnya masing-masing.

Hal pokok yang harus kamu ketahui adalah tentang jenis-jenis belajar itu sendiri. Ada sebelas jenis belajar yang akan diuraikan, sebagai berikut:

Pertama, belajar bagian. Secara, belajar bagian biasanya dilakukan oleh seseorang ketika di hadapkan pada materi yang bersifat luas dan ekstensif. Sebagai contohnya, bermain silat. Dalam prosesnya, setiap individu harus berusaha untuk memecah seluruh materi menjadi bagian yang saling terpisah antara satu sama lain.

Kedua, belajar dengan wawasan. Suatu konsep yang diperkenalkan pertamakali oleh W. Kohler, salah seorang psikolog Gestalt tahun 1971. Sebagai konsep, wawasan merupakan pokok utama dalam pembelajaran psikolog belajar dan proses berfikir. Psikolog ini juga mengemukakan bahwasanya dalam menerangkan wawasan berorientasi pada data yang bersifat tingkah laku namun tidak urung wawasan ini merupakan konsep yang secara prinsipiil ditentang oleh penganut aliran ner-behaviorisme.

Tingkah laku dalam hal ini, berartikan perkembangan yang halus dalam menyelesaikan suatu persoalan dan kemudian secara tiba-tiba terjadi reorganisasi tingkah laku. Tambahan Gestalt, teori wawasan merupakan proses mereorganisasikan pola-pola tingkah laku yang telah terbentuk mejadi satu tingkah laku yang ada hubungannya dengan penyelesaian suatu persoalan.

Sedangkan bagi kelompok neo-behaviorisme, menganggap wawasan sebagai salah satu bentuk atau wujud dari asosiasi stumulus-respons. Permasalahan yang muncul bagi konsep yang mereka gagaskan adalah bagaimana cara menerangkan reorganisasi pola-pola tingkah laku yang erat hubungannya dengan penyelesaian suatu persoalan.

Untuk menjawab pertentangan ini, G.A miller, mencoba membantu dengan mengemukakan bahwa wawasan barangkali merupakan kreasi dari rencana penyelesaian yang mengontrol rencana-rencana subordinasi lain yang telah terbentuk.

Ketiga, belajar diskriminatif. Merupakan suatu usaha untuk memilih beberapa sifat situasi atau stimulus dan kemudian menjadikanya sebagai pedoman dalam bertingkah laku. Berdasarkan arti tersebut, dalam bereksperimen, subyek diminta untuk berespon secara berbeda terhadap stimulus yang berlainan.

Keempat, belajar keseluruhan. Dalam hal ini kita diminta mempelajari secara keseluruhan berulang sampai mampu menguasainya. Metode ini seringkali disebut dengan metode Gestalt.

Kelima, belajar insidental. Konsep ini bertentangan dengan pengertian belajar yang selalu berarah tujuan (intensional). Sebab dalam belajar setiap individu tidak sama sekali berkehendak untuk belajar. Berdasarkan ungkapan ini maka disusun perumusan operasional yaitu belajar disebut insidental bila tidak ada instruksi yang diberikan pada individu mengenai materi belajar yang akan di ujikan kelak.

Keenam, belajar instrumental. Reaksi yang diperlihatkan seseorang diikuti oleh tanda-tanda yang mengarah pada apakah siswa tersebut akan mendapatkan hadiah, hukuman, berhasil atau gagal. Dengan begitu cepat atau lambatnya seseorang dalam belajar dapat diatur dengan jalan memberikan penguat atas dasar tingkat-tingkat kebutuhan. Bisa dikatakan, salah satu bentuk belajar instrumental yang khusus adalah pembentuk tingkah laku.

Ketujuh, belajar intensional. adalah belajar dalam arah tujuan, merupakan lawan dari belajar insidental.

Kedelapan, belajar laten. Disebut laten, sebab perubahan-perubahan tingkah laku yang terlihat, tidak terjadi secara segera.

Kesembilan, belajar mental. Dalam hal ini, mungkin hanya berupa perubahan proses kognitif dikarenakan ada bahan yang dipelajari. Kemungkinan Perubahan tingkah laku yang terjadi disini tidak nyata terlihat. Tugas-tugas yang bersifat motoris, akan mampu memperlihatkan ada atau tidaknya belajar mental. Sehingga perumusan operasional juga menjadi sangat berbeda. Beberapa bagian menyebutkan, belajar mental adalah sebagai belajar dengan cara melakukan observasi dari tingkah laku orang lain, membayangkan gerakan orang lain dan lain-lain.

Kesepuluh, belajar produktif. R. Bergius (1964) mengartikannya sebagai belajar dengan transfer yang maksimum. Belajar dalan hal ini adalah mengatur kemungkinan untuk melakukan transfer tingkah laku dari satu situasi ke situasi yang lain. Sehingga dapat disimpulkan, Belajar disebut produktig apabila individu mampu mntransfer prinsip menyelesaikan satu persoalan dalam satu situasi ke situasi yang lain.

Kesebelas, belajar verbal. Adalah belajar mengenai materi verbal melalui latihan dan ingatan. Dasarnya terlihat dalam eksperimen klasik dan Ebbinghaus. Sifat dari eksperimen ini meluas dari belajar asosiatif mengenai hubungan dua kata yang tidak bermakna sampai pada belajar dengan wawasan mengenai penyelesaian persoalan yang kompleks yang harus di ungkapkan secara verbal.

Dalam memahami konsep belajar yang bermakna sebagai tujuan, maka hal-hal yang mungkin dapat kita jumpai adalah tentang tipe belajar tersebut, struktur dan proses, variabel-variabelnya dan motivasi.

Ada 2 dimensi dalam tipe-tipe belajar. pertama, dimensi menemukan dan menerima. Kedua, dimensi menghafal dan belajar bermakna. Kedua dimensi ini kalau digabungkan, akan diperoleh 4 macam belajar, yaitu penerimaan bermakna , penerimaan hafalan , penemuan bermakna , penemuan hafalan .

Dalam penerimaan pembelajaran, semua bahan yang harus dipelajari diberikan dalam bentuknya yang final dalam bahan yang disajikan. Sedangkan dalam konsep menemukan pembelajaran, tidak semua yang harus dipelajari dipresentasikan dalam bentuk yang final, beberapa bagian harus dicari, diidentifikasikan oleh mereka sendiri. Kemudian informasi tersebut diintegrasikan ke dalam struktur kognitif yang telah ada, disusun kembali, lalu diubah, untuk menghasilkan struktur kognitif yang baru. Struktur kognitif adalah perangkat fakta-fakta, konsep-konsep, generalisasi yang terorganisasi yang telah dipelajari dan dikuasai.

Menemukan dan menerima adalah langkah pertama dalam belajar. langkah kedua adalah usaha mengingat atau menguasai apa yang dipelajari itu agar kemudian dapat dipergunakan. Jika seseorang berusaha menguasai informasi baru itu dengan jalan menghubungkannya dengan apa yang telah diketahuinya, terjadilah belajar yang bermakna. Namun, jika seseorang hanya berusaha mengingat informasi baru tersebut, terjadilah menghafal.

Proses mengintegrasikan informasi atau ide baru kedalam struktur kognitif yang telah ada disebut dengan subsumsi. Subsumsi ini terbagi menjadi dua macam, yaitu derivatif dan korelatif. Subsumsi derivatif, terjadi bila informasi atau ide baru adalah kasus khusus yang membantu atau menerangkan ide yang telah dipunyai, maka proses menghubungkan keduanya sehingga terjadi belajar. subsumsi korelatif, terjadi bila ide yang baru mengubah ide yang telah dipunyai, maka proses menghubungkan keduanya disebut subsumsi korelatif. Hal ini bermanfaat untuk memperkuat belajar atau mencegah lupa.

Dalam belajar bermakna terdapat variabel struktur kognitif yang terdiri dari beberapa macam. Pertama, pengetahuan yang telah dimiliki. Dalam hal ini, bagaimana bahan baru dapat dipelajari dengan baik, tergantung pada apa yang telah diketahui. Kedua, diskriminabilitas. Suatu Konsep baru yang dapat dibedakan dengan jelas dengan apa yang telah dipelajari, mudah dipelajari dan dikuasai. Ketiga, kemantapan dan kejelasan. Konsep-konsep yang mantap dan jelas yang telah ada di dalam struktur kognitif akan memudahkan untuk belajar dan retensi. Namun, juga diperlukan latihan agar lebih mantap dan jelas.

Motif keberhasilan dalam belajar bermakna terdiri dari 3 komponen, yaitu, dorongan kognitif, harga diri, dan kebutuhan berafiliasi. Bagian yang termasuk dalam dorongan kognitif adalah kebutuhan untuk mengetahui, mengerti, dan untuk memecahkan masalah. Hal ini terlihat di dalam proses interaksi antara individu dengan tugasnya. Namun, Lain halnya bagi sebagian individu yang tekun belajar melaksanakan tugas bukan terutama untuk memperoleh pengetahuan atau kecakapan, melainkan untuk memperoleh harga diri dan status.

Sedangkan untuk kebutuhan afiliasi sukar untuk dipisahkan dari harga diri. Sebagian individu terkadang berusaha belajar menguasai bahan pelajaran dengan giat untuk memperoleh penerimaan dari teman-temannya atau dari orang lain (atasan) yang dapat memberikan status kepadanya.

Selain itu kamu juga perlu tahu tentang hal-hal yang bisa mempengaruhi belajar. Banyak hal, mungkin, tetapi secara garis besar dapat dikelompokan menjadi 2 golongan. Pertama, faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri. Kedua, faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri.

Faktor internal tersebut terdiri dari beberapa bagian yaitu, faktor jasmaniah, faktor psikologis, faktor kelelahan, dln. Faktor ekstern terdiri dari banyak hal, namun secara umumnya ada 3 faktor utama yang berpengaruh besar terhadap belajar yaitu, faktor keluarga, sekolah dan masyarakat.

Faktor jasmaniah terdiri dari faktor kesehatan, cacat tubuh. Faktor psikologis terdiri dari intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, dan kematangan. Faktor kelelahan dapat dibagi menjadi 2 yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani.

Faktor keluarga misalnya cara orangtua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah tangga keluarga, pengertian orangtua, latar belakang budaya, dan keadaan ekonomi keluarga.

Faktor sekolah terdiri dari metode belajar, kurikulum, relasi pengajar dengan pelajar, relasi antar pelajar, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan sekolah, tugas-tugas, metode mengajar dan sebagainya.

Faktor masyarakat terdiri dari kegiatan yang dilakukan dalam masyarakat, media massa, teman bergaul dalam masyarakat, bentuk kehidupan masyarakat, dan sebagainya.

Demikian itu adalah faktor yang mampu mempengaruhi belajar setiap individu secara umumnya, terlebih khusus kepada anak-anak. Jika faktor tersebut memberi pengaruh positif maka proses belajar pun akan baik. Berlaku juga sebalikmya.

Selanjutnya, kamu perlu tahu tentang prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip belajar ini merupakan prinsip yang dapat disusun dan dilaksanakan dalam situasi dan kondisi yang berbeda dan oleh setiap orang secara individu. Menyusun prinsip tersebut dapat dilakukan dengan sebagai berikut:

1) Berdasarkan syarat yang diperlukan untuk belajar. – Dalam belajar setiap mereka harus diusahakan berpartisipasi secara aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional. – belajar harus dapat menimbulkan reinforcement da motivasi yang kuat pada dirimu untuk mencapai tujuan instruksional. – Belajar perlu lingkungan yang menantang dimana kamu dapat mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar efektif. – belajar perlu ada interaksi antar pelajar dengan lingkungannya.

2) Sesuai hakikat belajar. – Belajar itu proses kontinyu, maka harus tahap demi tahap, menurut perkembangannnya. – belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery. – belajar adalah proses kontinguitas sehingga mendapat pengertian yang diharapkan. Stimulus yang diberikan menimbulkan respon yang diharapkan.

3) sesuai materi yang harus dipelajari. – Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur, penyejian sederhana, sehingga mereka mudah utuk menangkap yang diberikan. – belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapai.

4) syarat keberhasilan belajar. – Belajar memerlukan saran yang cukup, sehingga mereka dapat berlajar dengan tenang. -repetisi dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali agar pengertian/keterampilan/sikap itu mendalam pada dirimu.

Dan yang terpenting untuk kamu ingat adalah prioritaskan mengingat hal-hal yang paling penting. Ingatan adalah penarikan kembali informasi yang pernah diperoleh sebelumnya. Informasi tersebut dapat tersimpan dalam memori untuk beberapa saat, beberapa waktu, atau jangka waktu yang tidak terbatas. Kekuatan memori untuk menyimpan ingatan tersebut dapat dilakukan dengan mengikuti beberapa hal berikut:

Pertama, belajar yang berarti lebih mudah terjadi dan lebih lama diingat dibandingkan belajar yang tampaknya tidak ada artinya. Sedangkan hal yang sulit untuk dilakukan adalah menghafal deretan huruf-huruf yang tidak ada hubungan arti. Maka dari itu perlu kiranya untuk membubuhkan suatu arti sehingga mudah dihafal.

Kedua, belajar menghubungkan atau merangkai dua objek atau peristiwa menjadi lebih mudah apabila kedua objek atau peristiwa itu terjadi atau dijumpai dalam urutan yang berdekatan, baik ditinjau dari segi waktu maupun ruang. Seseorang yang sudah berhasil mengingat objek yang satu akan mudah mengingat objek yang lain.

Ketiga, belajar dipengaruhi oleh grekuensi perjumpaan dengan rangsangan dan tanggapan yang sama atau serupa yang dibuat. Penguasaan setiap materi akan lebih mudah jika seseorang memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengulang atau berlatih. Mengulang-ulang tersebut sangat cocok untuk belajar keterampilan psikomotor, seperti bermain gitar dan sebagainya.

Semua hal yang diharapkan untuk dapat diingat lebih lama, diperlukan proses yang lebih aktif, seperti elaborasi dan transformasi. Suatu konsep atau aturan akan lebih mudah diingat jika dibicarakan dalam konteks.

Keempat, belajar tergantung pada akibat yang ditimbulkanny. Artinya, suatu hal yang memberi kesan menyenangkan, menarik, mengurangi ketegangan, bermafaat, atau memperkaya pengetahuan lebih efisien dan tersimpan atau memberi kesan yang lebih lama.

Kelima, belajar sebagai suatu keutuhan yang dapat diukur tidak hanya tergantung pada proses bagaimana belajar itu terjadi, melainkan juga pada cara penilaiannya atau penggunaannya. Artinya apapun yang dianggap telah dipelajari oleh seseorang, ia hanya akan dapat menunjukkan penguasaannya atas sebagian dari yang telah dipelajari. Semua itu pun tergantung pada macam pertanyaan atau situasi yang diciptakan untuk menunjukan penguasaan tersebut.

Berikutnya, kamu perlu menerapkan metode belajar yang lebih efisien dan efektif. yaitu suatu cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Secara, belajar bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan, sikap, kecakapan, dan keterampilan. Setelah dikembangkan, cara-cara yang dipakai itu akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan belajar tersebut akan mempengaruhi belajar itu sendiri. Metode belajar tersebut dapat mencakup beberapa hal berikut:

Pembuatan jadwal dan pelaksanaannya. Jadwal merupakan pembagian waktu untuk sejumlah kegiatan yang dilaksanakan oleh seseorang setiap hari. Jadwa tersebut berpengaruh terhadap belajar. agar belajar dapat berjalan dengan baik dan berhasil, maka perlu sekiranya mereka mempunyai jadwal yang baik dan melaksanakannya dengan lebih disiplin.

Membaca dan membuat catatan. Membaca jelas memberi pengaruh yang besar terhadap belajar. hampir sebagian besar kegiatan belajar adalah membaca. Agar mampu belajar dengan baik maka hendaknya membaca dengan baik pula, sebab membaca adalah alat belajar. begitu juga dengan mencatat, yang juga memberi pengaruh besar terhadap belajar. catatan yang tidak jelas, dan tidak tertatur antara materi yang berbeda akan menimbulkan rasa bosan dalam membaca, selanjutnya belajar menjadi kacau. Catatan tersebut pada umumnya hanya untuk menuliskan bagian yang penting saja, yang terpenting adalah mudah untuk digunakan ulang.

Mengulangi bahan pelajaran. Bahan pelajaran yang mudah dilupakan atau belum dikuasai dengan melakukan pengulangan dapat tetap tertanam dalam memori. Sebenarnya, bukan hanya tentang membacanya kembali tetapi mempelajari kembali.

Konsentrasi. Merupakan pemusatan pikiran terhadap sesuatu dengan mengkesampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan. Konsentrasi ini berpengaruh besar terhadap belajar. sebab seseorang yang mengalami kesulitan berkonsentrasi, jelas belajarnya akan sia-sia. Dapat dikatakan, berkonsentrasi adalah kunci untuk berhasil dalam belajar.

Mengerjakan tugas. Salah satu prinsip belajar adalah ulangan dan latihan. Maka, agar berhasil dalam belajar, perlu kiranya untuk mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya.

Tingkah laku baru dapat dikuasai atau dipelajari diawali dengan mengamati dan meniru suatu model/contoh/teladan. Model yang biasanya diamati dan ditiru oleh setiap individu dapat digolongkan menjadi beberapa bagian berikut ini

Pertama, Kehidupan yang nyata, misalnya orangtua, masyarakat dlln. Kedua, model yang dipresentasikan secara lisan, tertulis atau dalam bentuk gambar biasanya disebut dengan model simbolik. Ketiga, model yang dipresentasikan dengan menggunakan alat-alat audiovisual, terutama TV dan Video sering disebut dengan istilah representasional.

meniru tentu saja dapat memberikan pengaruh baru terhadap mereka yang meniru. Pengaruh tersebut bisa saja bersifat positif dan bisa juga bersifat negatif.

Dalam belajar menguasai tingkah laku baru, merupakan hasil dari peristiwa mengamati dan menirukan yang terjadi dalam waktu yang bersamaan. Kuat lemahnya ransangan tersebut tergantung pada motivasinya. Menurut teori purposefull learning, dijelaskan bahwasanya yang paling penting adalah bagaimana ransangan yang muncul tersebut diterima dan dipelajari.

Proses tersebut akan terlihat lebih jelas jika memperhatikan 3 macam pengaruh yang berbeda dari pengalaman dan peniruan.

Pertama, modeling effect, dalam hal ini individu menghubungkan tingkah laku dari model dengan respon yang muncul. Hal ini terjadi pada respon yang pertama kali dilakukan. Model tersebut pun harus menunjukkan tingkah laku yang baru bagi mereka, namun mudah untuk ditirukan.

Kedua, disinhibitory effect, individu dapat memperlemah atau memperkuat respon terlarang yang telah dimiliki. Pada umumnya, tingkah laku yang agresif tidak dibenarkan, atau dilarang. Jika mereka mengamati model yang menunjukan tingkah laku agresif, lalu larangan tersebut diperlemah, maka akibatnya tidak saja mereka akan melakukan tingkah laku agresif sesuai dengan model tersebut, melainkan juga melakukan lebih dari itu.

Ketiga, eliciting effect, mereka menghubungkan tingkah laku dari model dengan respon yang telah dimilikinya. Dengan begitu respon-respon tersebut dipercaya dapat ditimbulkan. Seperti bergotong-royong, bersedekah, dan sebagainya.

Selain pengaruh dalam meniru, ada juga faktor yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan peniruan.

Faktor pertama, konsekuensi dari respon yang dilakukan, misalnya hadiah atau hukuman.

Faktor kedua, sifat masing-masing individu. Berdasarkan sifat ini, mereka yang suka meniru biasanya adalah mereka yang mempunyai rasa kurang harga diri, kurang kemampuan, dan mereka yang mempunyai sifat-sifat yang sama seperti dalam model, serta keberadaan dalam suasana perasaan tertentu karena tekanan dari luar atau mungkin juga karena obat (drugs).

Terakhir, adalah bagaimana melupakan respon yang ditiru. Dengan melakukan beberapa cara untuk meniadakan respon tersebut mungkin saja mereka mampu untuk melupakannya. Misalnya, tidak memberi hadiah atas suatu respon, menghilangkan penguat yang positif, menggunakan perangsang yang tak menyenangkan, belajar berkondisi dan sebagainya.

Kesimpulan: Tips Belajar Agar Lebih Bermakna

Berdasarkan berbagai keterangan tersebut, sekarang dapat kita rangkum langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan agar proses belajar kamu menjadi lebih bermakna, efektif dan efisien.

Pertama, memperhatikan keadaan jasmani. Tidak hanya bekerja, belajar juga membutuhkan tenaga. Maka dari itu, untuk mendapat hasil yang baik, diperlukan keadaan jasmani yang sehat. Orang yang sakit, kurang makan, kurang tidur, atau alat indra yang kurang baik akan kesulitan untuk dapat belajar efektif. Hendaknya, kekurangan seperti ini harus diselesaikan terlebih dahulu.

Kedua, memperhatikan emosional dan sosial. Orang yang merasa jiwanya tertekan, dalam keadaan takut, mengalami goncangan emosi, dan tidak disukai teman, tidak akan dapat belajar secara efektif.

Ketiga, memperhatikan keadaan lingkungan. Setiap orang juga perlu memperhatikan tempat untuk belajar. tempat belajar tersebut hendaknya harus tenang, dan jauh dari hal-hal yang mengganggu konsentrasi. Dilain sisi, terkadang keadaan yang terlampau menyenangkan juga dapat mengganggu konsentrasi belajar, seperti kursi yang terlalu empuk dan sebagainya. Sebelum belajar, segala sesuatu yang diperlukan harus disediakan, misalnya buku, alat tulis, komputer, dan sebagainya. Tempat belajar pun hendaknya harus bersih dan rapi.

Keempat, mulailah belajar. awalnya setiap orang pasti sering merasakan kelambatan dan keengganan bekerja. Kalau perasaan itu terlalu kuat, belajar akan seringkali diundur, bahkan tidak dikerjakan sama sekali. Kelambatan tersebut dapat musnahkan dengan perintah kepada diri sendiri untuk memulai pekerjaan secara tepat waktu. Misal, belajar wajib pukul tujuh malam tepat, mutlak.

Kelima, membagi pekerjaan. Sebelum memulai, terlebih dahulu menentukan apa yang dapat dan harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Hendaknya hindari tugas yang terlampau berat untuk dikerjakan terlebih dahulu. menyelesaikan sesuatu yang terlebih dahulu direncanakan akan memberi perasaan sukses yang menggembirakan serta menambah kegiatan belajar.

Keenam, lakukan kontrol. Setelah selesai , lakukan evaluasi bagian menakah yang telah dikuasi. Maka akan terlihat jelas bagian mana yang masih terdapat kekurangan-kekurangan. Sehingga kekurangan-kekurangan tersebut dapat di selesaikan dengan membuat strategi khusus untuk menyelesaikannya.

Ketujuh, tetap optimis. Melakukan persaingan dengan diri sendiri akan meningkatkan pretasi. Lakukan dengan semampunya, tanpa rasa terpaksa untuk menyelesaikannya secepat mungkin dan lakukan dengan sesempurna mungkin.

Kedelapan, disiplin waktu. Tentutan kapan waktu belajar dan jangka waktu belajar tanpa jeda. Jika waktu belajar adalah pukul 7 sampai 8 , maka jangan meninggalkannya. Setelah itu jika, dibutuhkan istirahat, lakukanlah sebelum memulai kembali. Artinya, jangan menyelewengkan waktu, karena itu merupakan kegagalan yang tidak berarti.

Kesembilan, menyusun rencana. Sebelum tidur, sekiranya, susunlah rencana kerja secara tertulis untuk hari esok. Dengan demikian, kita dapat menggunakan waktu dengan seefisien mungkin. Selain itu, akan terlihat bahwa selalu cukup waktu untuk belajar. rencana tersebut harus disusun dengan sedemikian rupa dengan memperhatikan variabel lain. Sehingga dapat membuat pembagian waktu yang efisien untuk setiap pekerjaan yang dilakukan.

Kesepuluh, menggunakan waktu. Menggunakan waktu dengan efisien akan dapat menghasilkan sesuatu. Waktu yang hilang pastinya tidak bisa dikembalikan lagi. Maka, perlu hitung-hitungan tentang waktu yang telah terbuang sia-sia tanpa manfaat. Dalam hal ini, hal yang perlu diingat adalah, jangan melakukan lebih dari satu tugas serempak, tetapi selesaikan tugas itu sekarang, dan jangan diundur sampai gunung kidul meletus.

Kesebelas, belajar keras tidak merusak. Belajar dengan penuh konsentrasi tidak akan merusak. Tetapi, menggunakan waktu tidur untuk belajar merupakan sesuatu yang merusak, sebab akan menyebabkan kerugian pada bagian lain, kalau kurang tidur merusak badan (sakit).

Keduabelas, cara mempelajari. Sebelum memulai membaca, terlebih dahulu ada baiknya, mencari cara untuk memperoleh gambaran tentang apa yang akan dipelajari dan dituntaskan. Misal mencari gambaran atau poin-poin utama. Maka perlu dilihat sekilas tentang gambaran dan poin utama dari buku tersebut misal daftar isi, subbab, jubul dan sebagainya.

Ketigabelas, meningkatkan kecepatan membaca. Banyak juga orang yang gagal dalam karena memang kurang membaca. Maka, diperlukan usaha untuk meningkatkan efisiensi membaca hingga nanti. Biasanya, ada standar tertentu dalam kecepatan membaca seseorang yang disesuaikan dengan beberapa hal, misal usia, pendidikan, jabatan atau sebagainya.

Keempat belas, lakukan dengan maksimal. Dalam membaca, tidak hanya mengetahui kata-kata saja, tetapi juga mengikuti jalan pikiran sipembuat bacaan. Setiap keingintahuan yang dapat berubah menjadi sebuah pengetahuan baru akan terwujud melalui pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak.

Setiap point-pointnya harus diringkas dengan menggunakan gaya bahasa sendiri. Selain itu setiap sisinya yang kritis harus dibandingkan dengan apa yang telah diketahui untuk memperoleh perbandingan yang jelas agar mendapat kesimpulan baru yang lebih berkualitas.