Analisis Ekonomi dan Pasar Modal adalah analisis yang bertujuan untuk membuat keputusan alokasi investasi dana di beberapa negara atau dalam negeri, dalam bentuk saham, obligasi, ataupun kas. Apakah analisis ini perlu dilakukan? Dan mengapa?

Ya, ini adalah analisis tahap awal dalam analisis fundamental, sebelum melakukan analisis pada tahap berikutnya, Sebelum seorang pengusaha memulai bisnisnya atau investor melakukan investasi pada suatu usaha, mereka terlebih dahulu harus melakukan analisis ekonomi dan pasar modal. Adalah karena adanya kecenderungan hubungan yang kuat antara: lingkungan ekonomi dan kinerja pasar modal.

Selain itu, analisis tahap awal ini juga perlu dilakukan karena pasar modal mencerminkan apa yang terjadi ada perekonomian makro. Dalam bahasa sederhana, antara kondisi ekonomi dengan pasar modal memiliki keterkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain.

Analisis fundamental merupakan analisis tahap pertama ketika investor hendak melakukan analisis sekuritas, sebelum mereka membuat keputusan investasi. Analisis fundamental berhubungan dengan “What” (apa): Apa yang akan dibeli?. Analisis ini terdiri dari 3 analisis, mulai dari analisis ekonomi dan pasar modal, analisis industri, dan analisis perusahaan. Ketiga analisis ini dikenal dengan Top-Down Approach.

Siegel (1991) mengungkapkan adanya hubungan yang kuat antara harga saham (price) dan kinerja ekonomi makro, dan perubahan pada harga saham selalu terjadi sebelum terjadinya perubahan ekonomi. Artinya, pasar modal menanggapi kemungkinan (isu) yang beredar tentang perubahan ekonomi yang akan terjadi meskipun hal itu belum benar-benar terjadi.

Hal ini berbanding terbalik dengan obligasi dan deposito yang bergerak setelah perubahan tingkat suku bunga baru ditetapkan, dan itupun melalui serangkaian proses yang cukup panjang hingga perubahan itu terealisasikan secara merata.

Mengapa perubahan harga saham selalu terjadi sebelum terjadinya perubahan ekonomi? Alasan yang paling pasti adalah harga saham yang sudah terbentuk akan merefleksikan ekspektasi investor terhadap kondisi ekonomi pada masa yang akan datang. Kemudian, kinerja pasar modal akan bereaksi lebih dahulu terhadap perubahan-perubahan ekonomi makro yang akan terjadi, seperti perubahan tingkat bunga, inflasi, ataupun jumlah uang yang beredar.

Dalam membuat keputusan investasi, investor perlu melakukan estimasi (meramal) perubahan pasar modal pada masa yang akan datang. Kemampuan untuk mengetahui perubahan apa yang sedang terjadi di pasar modal belumlah cukup bagi investor. Investor memerlukan kemampuan untuk meramal apa yang mungkin terjadi di kemudian hari pada pasar modal, dan apa kira-kira dampaknya bagi keputusan investasi yang akan diambil.

Meramal perubahan pasar modal bisa dilakukan dengan mempelajari perubahan variabel-variabel (indikator-indikator) ekonomi makro dan juga bisa dengan menggunakan data-data perubahan siklis ekonomi.

Langkah pertama ketika hendak melakukan analisis ekonomi adalah dengan mengamati indikator-indikator ekonomi makro, akan membantu investor dalam meramalkan perubahan apa yang akan terjadi pada pasar modal. Misalnya, meramalkan tingkat suku bunga.

Apabila suku bunga meningkat, maka investor perlu membuat keputusan menjual, karena harga saham dan obligasi cenderung mengalami penurunan. Sehingga kemampuan seperti meramal perubahan variabel-variabel ekonomi makro juga sangat membantu investor dalam membuat keputusan investasi yang tepat.

Ekonomi makro memiliki beberapa variabel yang berpengaruh terhadap kinerja dan prospek perusahaan. Diantaranya, variabel-variabel paling umum adalah Produk Domestik Bruto (PDB), Inflasi, Tingkat bunga, dan Investasi swasta.

1. Produk Domestik Bruto (PDB)

PDB yang meningkat akan menjadi sinyal yang baik (positif) bagi investasi di pasar modal. Begitupula sebaliknya, apabila PDB menurun, makan akan menyebabkan penurunan investasi pada pasar modal. Itu berarti, PDB berhubungan searah (positif) terhadap Investasi Pasar Modal. Mengapa demikian? Peningkatan PDB mempunyai pengaruh positif terhadap daya beli konsumen, sehingga meningkatkan permintaan terhadap produk perusahaan.

2. Inflasi

Inflasi berhubungan terbaik (negatif) terhadap investasi pada pasar modal. Meningkatnya inflasi secara relatif akan menjadi sinyal negatif bagi pemodal dalam pasar modal. Inflasi memang dapat meningkatkan pendapatan dan biaya perusahaan, tetapi jika peningkatan biaya produksi lebih tinggi dari peningkatan harga yang dapat dinikmati oleh perusahaan, maka tetap saja profitabilitas perusahaan akan turun.

3. Tingkat Bunga

Tingkat bunga berhubungan terbalik (negatif) terhadap harga saham. Tingkat suku bunga yang meningkat akan menyebabkan peningkatan suku bunga yang diisyaratkan atas investasi pada suatu saham. Selain itu, tingkat suku bunga yang meningkat bisa juga menyebabkan investor menarik investasinya pada saham, lalu memindahkannya pada investasi berupa tabungan ataupun deposito.

4. Investasi Swasta

Investasi swasta berhubungan searah (positif) dengan Investasi pada pasar modal. Artinya, meningkatnya investasi swasta menyebabkan meningkatnya investasi pada pasar modal. Alasannya, ketika investasi swasta meningkat, PDB juga akan meningkat, maka pendapatan konsumen (penduduk) juga ikut meningkat. Apabila pendapatan konsumen meningkat, umumnya permintaan akan produk perusahaan juga ikut meningkat.

5. Kurs Rupiah (Mata Uang)

Kurs Rupiah berhubungan searah (positif) terhadap pasar modal dalam negeri. Apabila Kurs Rupiah menguat terhadap mata uang asing, maka itu akan menjadi sinyal yang baik (positif) bagi perekonomian yang sedang mengalami inflasi. Itu berarti, kenaikan kurs Rupiah dapat memberikan efek yang bagus bagi pemodal dalam pasar modal. Hal ini terjadi karena menguatnya kurs Rupiah bisa menurunkan biaya impor bahan baku produksi, dan juga menurunkan tingkat suku bunga yang berlaku.

6. Anggaran Defisit

Anggaran defisit cenderung menjadi sinyal positif bagi ekonomi yang sedang mengalami resesi. Namun disisi lain, anggaran defisit hanya akan menjadi kabar buruk bagi ekonomi yang sedang mengalami inflasi. Dalam hal ini, anggara defisit akan mendorong konsumsi dan investasi pemerintah, sehingga dapat meningkatkan permintaan terhadap produk perusahaan. Tetapi dibalik semua itu, justru akan meningkatkan jumlah uang yang beredar dan akibatnya akan mendorong perkembangan inflasi.

7. Neraca Perdagangan dan Pembayaran

Neraca perdagangan dan pembayaran dapat menjadi sinyal negatif bagi dunia investasi. Defisit neraca perdagangan dan pembayaran harus dibiayai dengan menarik modal asing. Agar hal itu terjadi, pemerintah harus menaikan suku bunga. Apabila suku bunga naik, investor cenderung menarik dana mereka di saham kemudian memindahkannya ke deposito atau tabungan.

Langkah Kedua adalah menganalisis perubahan siklis ekonomi yang akan terjadi. Sebab perubahan harga saham akan merefleksikan perubahan siklis ekonomi yang akan terjadi. Meski terdengar mudah, untuk menentukan kapan investor harus bereaksi tetaplah sulit diputuskan. Investor perlu menyadari perubahan pasar tersebut mustahil bisa di tebak secara sempurna. Investor hanya dapat mempelajari pola perubahan-perubahan historis, dan apabila memungkinkan investor dapat membuat keputusan menjual atau membeli.

Ketika ekonomi memasuki siklis resesi (keadaan dimana ekonomi cenderung menurun menuju titik terendah), umumnya harga saham juga mengalami penurunan. Semakin kuat resesi, harga saham juga akan turun secara drastis. Jika siklis ekonomi membaik, cenderung mendekati titik puncak, harga saham cenderung stabil. Pada masa itu, investor akan sulit untuk mendapatkan keuntungan yang tidak normal (abnormal return).

Oleh karena itu, investor dalam meramalkan perubahan perlu menggunakan estimasi perubahan siklis ekonomi, mengetahui kapan sekiranya siklis akan mendapati titik balik (baik titik puncak ataupun titik terendah). Dengan demikian investor dapat melakukan tindakan apa yang harus dilakukan pada saham tersebut, apakah menjual atau membeli?.