Kisah Sukses Howard Schultz: Pendiri Perusahaan Kopi Starbucks

Howard-Schultz-pendiri-starbucks kabarito

Howard Schultz lahir pada tahun 1953. Beliau besar di perumahan Bay View yang terkenal keras di New York. Ibunya bekerja sebagai resepsionis , sedangkan ayahnya adalah pekerja serabutan. Namun saat Howard Schultz berusia 7 tahun, ayahnya kehilangan pekerjaannya sebagai supir pengantar layanan propok setelah pergelangan kakinya patah. Ditambah lagi ayahnya tidak mempunyai uang atau asuransi untuk berobat.

Selama dia duduk di bangku sekolah menengah atas, Howard Schultz berjuang keras untuk bisa menjadi atlit. Kerja keras tersebut membuahkan hasil, ia mendapatkan beasiswa atletik di Universitas Northern Michigan. Lalu setelah lulus dengan gelar sarjana bisnisnya pada tahun 1975, Howard Schultz segera bekerja di divisi penjualan dan marketing Xerox Corp. Xerox terkenal dengan karyawan yang jago menjual dan training-training penjualan yang hebat.

Pada usia yang ke 26 tahun, Howard Schultz memutuskan untuk keluar dari Xerox dan bekerja di perusahaan perabotan rumah perstorp AB asal Swedia untuk menjadi wakil presiden dan manajer cabang Amerika, Hammerplast USA. Selama di Hammerplast, Howard Schultz mengetahui ada perusahaan kecil di Seattle bernama Starbucks yang membeli banyak mesin ekspresso Hammerplast.

Howard Schultz penasaran dan beliau pergi mengamati Starbucks tersebut. Starbucks berdiri pada tahun 1971 dari satu toko dekat Pike Street Market yang terkenal di Seattle, Starbuck menjual biji kopi panggang yang segar juga dengan teh, bumbu-bumbu, dan aksesoris pembuatan kopi yang beragam.

Terpesona dengan semangat dan keahlian marketing Howard, pemilik starbucks Gerald dan Gordon Bowker mengajak beliau untuk bergabung di Starbucks. Melalui kepemilikan saham di Starbucks, beliau menjadi kepala marketing dan operasi-operasi ritel pada tahun 1982.

Setahun kemudian, Howard Schultz coba berjalan-jalan ke Italia. Disana beliau terpesona dengan bar ekspresso yang begitu banyak di Milan. Baginya ini adalah masa pencerahan, ia berkata “mengapa tidak membuka sebuah bar kopi di Seattle?”, ungkapannya dalam sebuah wawancara di The New York Times.

Kembali dari Italia, Howard bercerita kepada bosnya tentang bar ekspresso tersebut. Namun sayang sekali, bosnya tidak tertarik. Pada tahun 1986 Howard Schultz pun meninggalkan Starbucks, lalu membuka bar ekspresso sendiri yang diberi nama II Giornale.

Keterbatasan modal untuk mengembangkan bisnisnya, Howard Schultz pun mengumpulkan investor-investor yang ada di Seattle. Saat itu Starbucks pun mengalami masa-masa sulit pada keuangan. Dengan modal yang didapatkan oleh Howard Schultz dari investor-investor tersebut, beliau pun membeli Starbucks dan menggabungkannya dengan kedai kopi miliknya.

Starbuck menawarkan minuman-minuman kopi eksotik seperti espresso, cappucino, cafe latte, dan cafe mocha. Ia juga mencoba menyiapkan sebuah atmosfer yang lebih menarik bagi konsumennya, “tempat yang bersih, terang yang pas”.

Teringat masa lalu yang keras bersama ayah dan ibunya, Howard yakin pelayanan yang friendly dan efisien dapat meningkatkan penjualan. Beliau pun mulai mengadakan training dan menstimulus para karyawan dengan jaminan kesehatan yang komplit baik bagi pekerja penuh dan juga paruh waktu, begitu pula dengan opsi saham. Semua itu merupakan praktik yang jarang terdengar di perusahaan Amerika pada saat itu.

Dari perubahan-perubahan yang beliau lakukan, Starbucks mengalami pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya di masa 1990-an. Starbucks berkembang dari 425 toko di tahun 1994 menjadi lebih dari 2200 toko pada tahun 1998. Perusahaan tersebut memenuhi target dengan mencapai $ 2 milyar penjualan pada tahun 2000.

Tahun 1992 Starbucks sudah Go public dan menjual 2,1 juta saham seharga 17 dollar per lembar. Saat itu Starbucks memiliki 125 gerai dan 2.000 karyawan. Tahun 2002 jumlah gerai bertambah mencapai 5.700 buah dan tersebar di 28 negara. Starbucks mempekerjakan 60.000 pegawai, menghasilkan penjualan sebesar 2,6 milyar dollar dan tumbuh 20% pertahun.

Dalam kurun waktu 15 tahun sejak go public, Starbucks berhasil mengembangkan jumlah gerainya hingga lebih dari 100 kali lipat. Tahun 2007 Starbucks memiliki lebih dari 13.000 kedai yang beroperasi di 39 negara dan mempekerjakan 139.000 karyawan. Begitu pula di Indonesia, saat ini Starbucks sudah banyak bertebaran. Namun agar bisa menggandeng starbucks ke indonesia butuh waktu bertahun-tahun untuk molobinya.

You may also like...