Agar Proses Belajarmu Lebih Efektif, Efisien dan Menyenangkan!, Pahami Ini Kemudian Terapkan!

Lanjutkan ke Halaman Berikutnya:12345

Belajar adalah proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku individu yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Ya, kira-kira seperti itulah arti belajar secara umumnya. Sebenarnya pengertian belajar sangat bervariasi, tergantung pada sudut pandangnya. Atas dasar hal tersebut, maka muncul berbagai jenis-jenis belajar dengan konsepnya masing-masing.

Hal pertama yang harus kamu ketahui adalah tentang jenis-jenis belajar itu sendiri. Ada sebelas jenis belajar yang akan diuraikan, sebagai berikut:

Pertama, belajar bagian. Secara, belajar bagian biasanya dilakukan oleh seseorang ketika di hadapkan pada materi yang bersifat luas dan ekstensif. Sebagai contohnya, bermain silat. Dalam prosesnya, setiap individu harus berusaha untuk memecah seluruh materi menjadi bagian yang saling terpisah antara satu sama lain.

Kedua, belajar dengan wawasan. Suatu konsep yang diperkenalkan pertamakali oleh W. Kohler, salah seorang psikolog Gestalt tahun 1971. Sebagai konsep, wawasan merupakan pokok utama dalam pembelajaran psikolog belajar dan proses berfikir. Psikolog ini juga mengemukakan bahwasanya dalam menerangkan wawasan berorientasi pada data yang bersifat tingkah laku namun tidak urung wawasan ini merupakan konsep yang secara prinsipiil ditentang oleh penganut aliran ner-behaviorisme. Tingkah laku dalam hal ini, berartikan perkembangan yang halus dalam menyelesaikan suatu persoalan dan kemudian secara tiba-tiba terjadi reorganisasi tingkah laku. Tambahan Gestalt, teori wawasan merupakan proses mereorganisasikan pola-pola tingkah laku yang telah terbentuk mejadi satu tingkah laku yang ada hubungannya dengan penyelesaian suatu persoalan.

Sedangkan bagi kelompok neo-behaviorisme, menganggap wawasan sebagai salah satu bentuk atau wujud dari asosiasi stumulus-respons. Permasalahan yang muncul bagi konsep yang mereka gagaskan adalah bagaimana cara menerangkan reorganisasi pola-pola tingkah laku yang erat hubungannya dengan penyelesaian suatu persoalan.

Untuk menjawab pertentangan ini, G.A miller, mencoba membantu dengan mengemukakan bahwa wawasan barangkali merupakan kreasi dari rencana penyelesaian yang mengontrol rencana-rencana subordinasi lain yang telah terbentuk.

Ketiga, belajar diskriminatif. Merupakan suatu usaha untuk memilih beberapa sifat situasi atau stimulus dan kemudian menjadikanya sebagai pedoman dalam bertingkah laku. Berdasarkan arti tersebut, dalam bereksperimen, subyek diminta untuk berespon secara berbeda terhadap stimulus yang berlainan.

Keempat, belajar keseluruhan. Dalam hal ini kita diminta mempelajari secara keseluruhan berulang sampai mampu menguasainya. Metode ini seringkali disebut dengan metode Gestalt.

Kelima, belajar insidental. Konsep ini bertentangan dengan pengertian belajar yang selalu berarah tujuan (intensional). Sebab dalam belajar setiap individu tidak sama sekali berkehendak untuk belajar. Berdasarkan ungkapan ini maka disusun perumusan operasional yaitu belajar disebut insidental bila tidak ada instruksi yang diberikan pada individu mengenai materi belajar yang akan di ujikan kelak.

Keenam, belajar instrumental. Reaksi yang diperlihatkan seseorang diikuti oleh tanda-tanda yang mengarah pada apakah siswa tersebut akan mendapatkan hadiah, hukuman, berhasil atau gagal. Dengan begitu cepat atau lambatnya seseorang dalam belajar dapat diatur dengan jalan memberikan penguat atas dasar tingkat-tingkat kebutuhan. Bisa dikatakan, salah satu bentuk belajar instrumental yang khusus adalah pembentuk tingkah laku.

Ketujuh, belajar intensional. adalah belajar dalam arah tujuan, merupakan lawan dari belajar insidental.

Kedelapan, belajar laten. Disebut laten, sebab perubahan-perubahan tingkah laku yang terlihat, tidak terjadi secara segera.

Kesembilan, belajar mental. Dalam hal ini, mungkin hanya berupa perubahan proses kognitif dikarenakan ada bahan yang dipelajari. Kemungkinan Perubahan tingkah laku yang terjadi disini tidak nyata terlihat. Tugas-tugas yang bersifat motoris, akan mampu memperlihatkan ada atau tidaknya belajar mental. Sehingga perumusan operasional juga menjadi sangat berbeda. Beberapa bagian menyebutkan, belajar mental adalah sebagai belajar dengan cara melakukan observasi dari tingkah laku orang lain, membayangkan gerakan orang lain dan lain-lain.

Kesepuluh, belajar produktif. R. Bergius (1964) mengartikannya sebagai belajar dengan transfer yang maksimum. Belajar dalan hal ini adalah mengatur kemungkinan untuk melakukan transfer tingkah laku dari satu situasi ke situasi yang lain. Sehingga dapat disimpulkan, Belajar disebut produktig apabila individu mampu mntransfer prinsip menyelesaikan satu persoalan dalam satu situasi ke situasi yang lain.

Kesebelas, belajar verbal. Adalah belajar mengenai materi verbal melalui latihan dan ingatan. Dasarnya terlihat dalam eksperimen klasik dan Ebbinghaus. Sifat dari eksperimen ini meluas dari belajar asosiatif mengenai hubungan dua kata yang tidak bermakna sampai pada belajar dengan wawasan mengenai penyelesaian persoalan yang kompleks yang harus di ungkapkan secara verbal.


Mungkin Anda juga menyukai

What do you think?

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*