Ingat, Tidak Hanya Saham dan Obligasi saja! Masih ada Options dan Futures

Instrumen yang Diperdagangkan di Bursa Efek




Kebanyakan orang di Indonesia, ketika berbicara tentang investasi, maka menset mereka cenderung mengarah kepada saham. Padahal, saham hanyalah salah satu dari banyaknya jenis instrumen yang diperdagangkan di pasar modal. Ini haruslah diperbaharui. Kita musti mengenal lebih dalam mengenai instrumen yang diperdagangkan di pasar modal, terutama di pasar modal Indonesia.

Investasi memang dapat dilakukan pada banyak hal, mulai dari aset riil seperti: tanah, emas, mesin, dan bangunan, atau bisa juga pada aset finansial, seperti: deposito, obligasi dan saham. Bagi investor yang lebih berani, ada investasi yang lebih menguntungkan dan tentu saja juga sangat berisiko, yaitu: warrants, options, futures, dan juga ekuitas internasional.

Sebenarnya, ada banyak jenis sekuritas yang diperdagangkan di pasar modal, namun yang paling umum adalah: saham, obligasi, reksadana, dan instrumen derivatif. Masing-masing sekuritas memiliki tingkat return dan risiko yang berbeda.

Saham

Saham merupakan surat bukti kepemilikan atas aset-aset perusahaan yang menerbitkannya. Artinya,  jika investor memiliki saham tersebut berarti mereka berhak atas pendapatan dan kekayaan perusahaan sesuai dengan proporsi kepemilikan mereka, setelah dikurangi dengan pembayaran semua kewajiban perusahaan. Saham adalah sekuritas yang paling populer di pasar modal.

Saham juga dibedakan menjadi dua yaitu, saham biasa dan saham preferen. Saham biasa merupakan saham yang menunjukkan bahwa pemegang saham biasa tersebut mempunyai hak kepemilikan atas aset-aset perusahaan. Sementara saham preferen merupakan saham yang mempunyai kombinasi karakteristik gabungan dari saham biasa dan obligasi. Oleh karena itu, saham preferen memberikan pendapatan yang tetap seperti halnya obligasi, serta mendapatkan hak kepemilikan seperti saham biasa.

Pemegang saham preferen akan mendapatkan hak terhadap pendapatan dan kekayaan perusahaan setelah dikurangi dengan pembayaran kewajiban pemegang obligasi dan utang, sebelum pemegang saham biasa mendapatkan haknya. Artinya, pemegang saham preferen lebih didahulukan dalam hal pembagian dividen dibandingkan dengan pemegang saham biasa.

Perbedaan lain antara saham biasa dengan saham preferen adalah dalam hal ‘voting rights’ (hak suara). Pemegang saham biasa mempunyai hak suara untuk memilih direktur, ataupun manajemen perusahaan dan bisa ikut berperan dalam pengambilan keputusan penting perusahaan pada saat rapat umum pemegang saham (RUPS) dilakukan. Sementara, pemegang saham preferen tidak dapat memberikan hak suara mereka untuk memilih direksi ataupun manajemen perusahaan.

Meski pemegang saham biasa tidak bisa dipastikan akan mendapat dividen secara tetap, mereka bisa mendapatkan keuntungan dari penjualan saham tersebut. Ketika mereka bisa menjual lebih tinggi daripada harga beli, maka selisihnya adalah keuntungan bagi mereka.

Obligasi

Obligasi atau bond adalah surat utang yang dikeluarkan oleh pemerintah, korporasi, atau pihak lain dalam rangka mendapatan pendanaan. Berbeda dengan saham biasa, obligasi merupakan sekuritas yang memberikan pendapatan dalam jumlah tetap. Ketika investor membeli obligasi, mereka sudah bisa mengetahui berapa pembayaran bunga yang akan diperoleh secara periodik dan berapa pembayaran kembali nilai par (par value) pada saat jatuh tempo. Itu berarti obligasi memiliki risiko yang lebih kecil dibandingkan saham, namun bukan berarti tanpa resiko, misalnya masalah likuditas. Bisa saja di masa datang, pihak yang menerbitkan obligasi tersebut tidak dapat memenuhi kewajibannya. Maka dari itu, investor perlu berhati-hati dalam memilih obligasi yang akan dibeli.

Pembayaran bunga obligasi ditentukan oleh seberapa besar tingkat bunga yang ditetapkan oleh penerbit obligasi. tingkat bunga dikenal juga dengan istilah kupon. Biasanya, setiap obligasi terdapat kupon dalam jumlah dan waktu pembayaran yang sudah ditentukan. Tetapi, ada satu jenis obligasi yang tidak memberikan kupon, disebut dengan ‘zero coupon bond’. Pada jenis kupon ini, penerbit tidak memberikan pembayaran bunga tetap, tetapi pembeli akan membayar dengan harga kurang dari nilai par yang telah ditetapkan (harga discount). Pada saat jatuh tempo, pemegang obligasi jenis ini akan menerima sejumlah nilai par (tanpa discount). Potongan harga saat pembelian, itulah yang merupakan tingkat keuntungan bagi pembeli.

Selain zero coupon bond, ada juga jenis obligasi yang dapat dilunasi oleh penerbit sebelum jatuh tempo (call provision), dan yang dapat ditukarkan dengan sejumlah saham (obligasi konversi). Pelunasan obligasi sebelum jatuh tempo terkadang bisa menguntungkan bagi penerbit obligasi, jika seandainya terjadi penurunan tingkat bunga. Mengapa?. Pada saat tingkat bunga pasar menurun, kupon obligasi bisa menjadi lebih besar dibandingkan dengan tingkat bunga pasar, dan dalam situasi ini penerbit akan dirugikan karena perusahaan harus membayar tingkat bunga yang lebih tinggi dibanding tingkat bunga pasar. Jika seandainya pada saat tersebut perusahaan melunasi obligasi (sebelum jatuh tempo), maka penerbit obligasi akan terhindar dari kerugian.

Sementara, investor akan mengalami kerugian jika penerbit melunasi obligasi tersebut pada saat harga pasar obligasi lebih besar dari nilai par. Oleh karena itu, pada saat melunasi obligasi sebelum jatuh tempo, penerbit harus membayar sejumlah biaya tambahan tertentu, yaitu call premium dan biaya administratif.

Selain itu, penerbit obligasi juga bisa mengeluarkan obligasi konversi, yaitu obligasi yang dapat ditukarkan dengan sejumlah saham di perusahaan yang sama tanpa dikenakan biaya tambahan. Sehingga, fluktuasi harga obligasi konversi di sampig dipengaruhi oleh tingkat bunga pasar yang terjadi, juga dipengaruhi oleh fluktuasi harga saham perusahaan.

Reksadana

Reksadana atau Mutual Fund adalah sertifikat yang menjelaskan bahwa pemiliknya menitipkan sejumlah dana kepada perusahaan reksadana, untuk digunakan sebagai modal berinvestasi baik di pasar modal maupun di pasar uang. Pihak reksadana akan mengumpulkan dana dari investor untuk kemudian diinvestasikan dalam bentuk portofolio yang dibentuk oleh manajer investasi. Dengan demikian, investor dapat membentuk portofolio secara tidak langsung, melalui manajer investasi tersebut.

Reksadana terdiri dari dua, yaitu: reksadana tertutp (close-ended) dan reksadana terbuka (open-ended). Pada reksadana tertutup, setelah dana yang terhimpun mencapai jumlah tertentu maka reksadana tersebut akan ditutup. Dengan begitu, investor tidak dapat menarik kembali dana yang telah diinvestasikan. Sedangkan pada reksadana terbuka, investor dapat menginvestasikan dananya dan juga menarik dana mereka setiap saat dari reksadana tersebut selama reksadana itu masih aktif. Artinya, investor dapat menjual kembali reksadana yang telah dibeli atau perusahaan reksadana dapat membeli kembali reksadana yang telah dijual.

Berdasarkan bentuk kelembagaan, reksadana juga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: reksadana berbentuk perusahaan (company) dan reksadana berbentuk kontrak investasi kolektif (Contractual). Umumnya di Indonesia, reksadana yang berbentuk perusahaan terdiri dari reksadana tertutup dan reksadana terbuka. Sementara untuk reksadana yang berbentuk kontrak kolektif, hanya terdiri dari reksadana terbuka.

Perbedaan lain antara reksadana berbentuk perusahaan dan kontrak kolektif adalah bahwa reksadana kontrak, investasi tidak diperjual-belikan di pasar sekunder, sehingga investor tidak mendapat saham. Sementera, untuk reksadana berbentuk perusahaan, investor akan mendapatkan saham yang dapat diperjual-belikan di pasar sekunder. Di Indonesia, reksadana jenis kontrak kolektif sepertinya lebih banyak dibandingkan dengan reksadana jenis perusahaan.



You may also like...